Magnificent Seven

3 December 2007

“Sebuah Karya Seni Yang Luar Biasa…”,

Itulah yang selalu terlintas dalam benak yang cukup beruntung menonton langsung dua buah crossing yang dilakukan David Beckham di injury time malam final Champions League 1999 yang kemudian menasbihkan Manchester United sebagai juara Eropa tahun itu. Tentu tidak berlebihan penilaian tersebut, langka adanya sebuah bola yang dilambungkan begitu indah dan mendarat tepat dan nyaman pada sasaran yang dituju. Hanya pemain bertalenta tinggi dan menjalani latihan yang berat yang dapat mencapai kesempurnaan itu. David Beckham, pemain United berNo. 7 saat itu, diakui sebagai seniman yang sangat luar biasa terutama dalam mengirimkan operan matang dan freekick maut. Dan tentu, siapa saat ini yang tidak kenal David Beckham, dengan tampang tampan dan gaya stylishnya, ia menjelma menjadi icon Manchester United dan menyihir jutaan pemujanya. Beristrikan Posh Spice, David Beckham bahkan mungkin lebih terkenal dari Ratu Elizabeth, sehingga Real Madrid tidak berpikir panjang untuk mengeluarkan uang 15 juta pounds pada tahun 2003 untuk membawanya ke Bernabeau. Suatu hal yang akhirnya mungkin menjadi sebuah penyesalan bagi sang pemain itu sendiri.

Sebelum David Beckham, pemakai No. 7 siapa lagi kalau bukan Eric “The King” Cantona, sang maestro asal Perancis yang dianggap fans United sebagai mesiah atau juru selamat yang membawa mereka ke era kejayaan. Berlebihan? Tidak kiranya, Eric Cantona adalah seorang pemain depan berkemampuan komplit dengan visi jenius. Saat Cantona memasuki lapangan saja, auranya sekelilingnya sangat luar biasa, dengan stylenya yang khas yaitu kerah baju diangkat ke atas, ia terlihat anggun bahkan mungkin mendekati angkuh, tapi juga mendominasi. Cantona selain konsisten mencetak gol, ia juga playmaker yang sangat piawai, bak seorang pemimpin orkestra memimpin rekan2nya memborbardir pertahanan lawan. Prestasinya tak usah ditanya, Dua kali “double” EPL dan FA Cup sudah merupakan jaminan menterengnya. Keputusannya untuk pensiun diratapi oleh semua fans United di dunia ini tanpa terkecuali, seakan-akan anak ayam kehilangan induknya. Beruntunglah Class of’92, yang salah satunya adalah Beckham, mendapatkan kesempatan merasakan daya magis Cantona secara langsung.

Setelah era Cantona dan Beckham, penerus No. 7 berikutnya hingga saat ini yaitu pemuda asal Madeira bernama Cristiano Ronaldo yang saat pertama kali melakukan debut Unitednya masih berusia 18 tahun juga langsung memberikan sebuah peragaan karya seni nan indah pada publik Old Trafford yang cemas bercampur penasaran. Kedua kaki bocah Portugal itu seakan mempunyai nyawa dan pikiran sendiri, bergerak lincah memainkan berbagai trik pada bola dan dengan campuran kecepatannya yang tidak bisa dipercaya akal sehat, menipu lawan di depannya. Pemain bertahan Bolton yang ‘beruntung’ dijadikan lawan saat debut, dibuatnya kocar kacir dan seakan belum pernah belajar bermain sepakbola. Kini pada usianya 22 tahun CR7 – demikian Cristiano Ronaldo biasa disebut – semakin matang dan musim ini sukses membawa Manchester United ‘Keep Flying High’ menantang di 3 front untuk mengulang kesempatan musim ajaib “treble”. Ia juga sukses memenangkan taruhan jumlah gol semusim dengan Sir Alex Ferguson dengan mencetak 15 gol untuk United hanya dalam separuh musim saja. Hanya Tuhan yang tahu seberapa jauh CR7 akan melangkah di usianya yang masih muda ini.

Eric Cantona, David Beckham, dan Cristiano Ronaldo, ketiga pemain ini mempunyai beberapa kesamaan. Mereka adalah pemain bertalenta tinggi dengan skill tinggi nan indah yang mampu mempesona publik; Ke-3 pemain ini, bagi MU adalah pemain yang sangat penting di masanya masing-masing; Dan terakhir ke-3 pemain inilah yang atau pernah mengenakan seragam keramat United No. 7 atau disebut juga Magnificent Seven. Berbeda dengan klub2 sepakbola umumnya, di United, No. 7 dianggap sebagai nomor keramat dibandingkan nomor lainnya bahkan nomor sepuluh sekalipun. Bagi para fans United, pemakai No. 7 haruslah seseorang yang mampu mengubah permainan tim dan membawa kemenangan. Bila dirunut dari mantan No. 7 sebelum Eric Cantona seperti Bryan Robson, Steve Coppell,Willie Morgan, dan George Best. Stigma No. 7 sebagai nomor keramat mungkin dapat dimengerti.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.